Kuliner di Kabupaten Sukoharjo – Nasi Liwet

by

Nasi Liwet terbuat dari terbuat dari beras yang ditanak setelah dibumbui dengan racikan bumbu khusus kemudian diliwet. Penyajian ditambah dengan santa kelapa, telur dan daging ayam yang dimasak ingkung. Sentra pedagang nasi liwet banyak dijumpai di Desa Duwet dan Manuran, Kecamatan Baki.

dandang besar mengepulkan uap putih tipis dalam sebuah ruangan berukuran lima kali tujuh meter. Tepat di sebelah dandang, terdapat belasan labu siam atau jipan dan kelapa di meja kayu. Bentuknya bulat agak lonjong dengan warna kulit hijau. Sesekali, terdengar suara pisau pemotong yang beradu dengan talenan kayu.

Nasi, labu siam, dan kelapa merupakan bahan utama memasak nasi liwet. Saban Lebaran, nasi liwet menjadi salah satu kuliner yang diburu para pemudik yang pulang kampung ke Kota Solo dan sekitarnya. Mereka ingin menikmati sensasi serba gurih dan lezat dari kombinasi nasi dengan sambal goreng jipan atau labu siam.

Tak heran jika warung-warung kali lima yang menyajikan nasi liwet di emperan toko di Solo disesaki pembeli saat libur Lebaran.

Para pemudik ingin bernostalgia menikmati kuliner khas Solo. Saya menambah porsi nasi liwet saat libur Lebaran. Bisa lebih dari 200 porsi habis dalam sehari. Pada hari biasa hanya separuhnya,” kata seorang pembuat nasi liwet asal Desa Duwet, Kecamatan Baki, Sukirman, saat berbincang dengan Solopos.com.

Dibantu istrinya, Sukirman berjualan nasi liwet di sekitar Perempatan Warung Pelem, Solo. Mereka harus menempuh perjalanan lebih dari 30 menit dari Desa Duwet, Baki, menuju Kota Solo setiap hari.

Sukirman dan istrinya memasak bahan utama nasi liwet pada malam hari. Saat subuh, mereka membawa beberapa panci berisi nasi liwet, sambal goreng jipan, telur, dan daging ayam ke mobil. Mereka lantas menuju Kota Bengawan untuk menjual barang dagangannya.

Desa Duwet dikenal sebagai desa sentra industri nasi liwet di Sukoharjo. Hampir sebagian besar warga setempat bekerja sebagai pembuat nasi liwet.

”Kendati sentra industri nasi liwet di Sukoharjo namun mayoritas warga memilih berjualan di Kota Solo lantaran lokasinya cukup strategis dan banyak pelanggan,” papar dia.

Minimnya perhatian khusus dari Pemkab Sukoharjo juga menjadi salah satu alasan utama pemilihan lokasi berjualan. Instansi terkait tak pernah menyentuh ratusan pembuat nasi liwet di Desa Duwet. Terlebih, tak ada lokasi strategis yang menjadi magnet utama untuk berjualan kecuali kawasan Solo Baru.

”Satu porsi nasi liwet dijual Rp7.000. Kami tak pernah menaikkan harga nasi liwet saat libur Lebaran,” tutur Sukirman.

Nasi liwet sejatinya memiliki sisi histori cukup menarik. Konon, nasi liwet merupakan makanan favorit di lingkungan Keraton Solo yang dipimpin Paku Buwana (PB) VIII.

PB VIII meminta juru masak Keraton, Nyai Lenggi, memasak ratusan porsi nasi liwet untuk para abdi dalem. Nasi liwet itu dibagikan kepada para abdi dalem untuk sarapan.

Dahulu, para penjual nasi liwet berjalan kaki belasan kilometer menuju Kota Solo. Mereka menggendong panci berisi nasi liwet dan sambal goreng jipan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *