Kuliner di Kota Banjar – Soto Legendaris

by

Mencicipi Soto Banjar, Membayangkan Sejarah yang ditulis oleh Mursalin pada Kandil: Majalah Kebudayaan | Empat Bulanan, Edisi Juli 2021, soto berasal dari kata cao do atau jao to atau chau tu dalam bahasa Tiongkok, seperti yang dituliskan oleh Dennys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya. Sehingga dapat dipastikan bahwa kuliner yang satu ini erat kaitannya dengan budaya negeri tirai bambu. Cao do atau jao to atau chau tu dalam dialek Hokkian itu juga bermakna jeroan sapi atau babi yang dimasak dengan rempah-rempah.

Soto banjar sendiri diperkirakan ada sejak setelah tahun 1563, yaitu ketika para pedagang-pedagang Tiongkok banyak berdatangan ke Banjarmasin, yang pada akhir abad XVI itu dikenal sebagai daerah kerajaan penghasil lada. Sehingga menjadi indikasi bahwa kuliner jao to masuk ke Banjarmasin pada masa tersebut. Akan tetapi, jao to di Banjarmasin lambat laun juga mengalami penyesuaian. Misalkan saja pada penggunaan susu di dalam kuahnya yang merupakan pengaruh Belanda. Karena di Banjarmasin juga terdapat pedagang-pedagang Belanda yang menyajikan sup dan frikadeller atau yang lebih dikenal dengan sebutan perkedel, yang awalnya diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Belanda dan menggunakan susu dalam pengolahannya.

Soto banjar adalah kuliner berkuah kaldu ayam kampung dengan sohun dan bumbu yang terdiri dari rempah cengkih, adas, kayu manis, bunga lawang, dan lada. Untuk asupan karbohidrat, soto banjar biasa disajikan dengan lontong atau ketupat isian telur rebus. Lebih nikmat jika dimakan bersama perkedel serta sate ayam atau telur asin. Penasaran dengan kelezatan soto dari Kota Seribu Sungai ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *