Moci adalah kebiasaan orang Tegal yang suka minum teh seduh dalam poci gerabah. Sebelum diminum, teh panas yang warnanya pekat itu dituang lebih dulu ke dalam cangkir-cangkir kecil berisi gula batu. Kombinasi teh pekat dengan manisnya gula batu ini yang membuat teh Tegal populer dengan nama ”nasgitel”, kependekan dari panas, legi (manis), dan kenthel (pekat) atau ”wasgitel”, yang artinya wangi, panas, legi, kenthel.
Kebiasaan moci orang Tegal bisa dilihat di warung-warung makan, tempat lesehan pinggir jalan, hingga rumah makan yang cukup besar di seluruh Kota Tegal. Di sepanjang jalan protokol Kota Tegal, seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Diponegoro, Jalan DI Panjaitan, dan Jalan Cokroaminoto, tenda-tenda lesehan yang menyediakan teh poci buka hingga pukul 02.30.
Teh Poci biasanya menggunakan teh (hijau) melati yang mengeluarkan aroma yang khas, dan biasa disajikan dipagi atau sore / malam hari dengan ditemani makanan kecil. Poci yang digunakan untuk menyeduh teh poci biasanya bagian dalam pocinya tidak pernah dicuci tetapi cukup dibuang sisa tehnya saja. Hal ini dipercaya masyarakat Tegal kerak sisa teh tadi akan menambah cita rasa dan aroma teh poci menjadi semakin enak.
Di luar daerah Tegal teh poci dapat dijumpai di warteg (Warung Tegal). Perangkat minum teh poci yang asli adalah poci (cerek kecil) dan cangkir dari tanah liat.

Leave a Reply