Nama Resmi : Provinsi Papua Selatan
Ibukota : Merauke
Tanggal berdiri :25 Juli 2022
Gubernur : Apolo Safanpo
Wakil Gubernur : Paskalis Imadawa
Jumlah Penduduk: 522.844 jiwa
Luas Wilayah: 117.833,92 km2
Alamat : Jl. Soa Siu Dok 2 Bawah Jayapura, Papua.
Tlp : 0967 537523.
Website : https:papuaselatan.go.id
Wilayah Administrasi:
Kabupaten : 4
Kodya/Kota : 1
Sejarah
Masa Kolonial
Anggota Suku Marind di tahun 1910
Sebelum datangnya bangsa Eropa, wilayah rawa-rawa Papua Selatan dihuni oleh berbagai suku seperti Asmat, Marind, dan Wambon yang masih menjaga tradisinya. Suku Marind atau disebut juga Malind dulunya hidup berkelompok di sepanjang sungai-sungai di wilayah Merauke dan hidup dengan berburu, meramu, dan berkebun. Selain itu orang Marind juga dikenal sebagai suku pengayau atau pemburu kepala (headhunting). Orang Marind menggunakan perahu mengarungi sungai dan pantai menuju kampung yang jauh dan memenggal kepala penghuninya. Orang Marind kemudian membawa kepala korbannya untuk diawetkan dan dirayakan.
Pada abad ke-19, bangsa Eropa mulai melakukan penjajahan di Pulau Papua. Pulau Papua dibelah dengan garis lurus, bagian barat masuk ke wilayah Nugini Belanda dan bagian timur masuk wilayah Inggris. Suku Malind sering melewati perbatasan tersebut untuk pergi mengayau. Sehingga pada tahun 1902, Belanda mendirikan pos militer di ujung timur Papua Selatan untuk memperkuat perbatasan dan menghilangkan tradisi tersebut. Pos ini berada di sungai Maro sehingga kemudian daerahnya sekitarnya diberi nama Merauke. Belanda juga menempatkan misi Katolik di pos ini untuk menyebarkan agamanya serta membantu menghapuskan tradisi pengayauan. Pos ini lama kelamaan semakin ramai sehingga menjadi sebuah kota. Kemudian Merauke dijadikan ibukota dari Afdeeling Zuid Nieuw Guinea atau Provinsi Nugini Selatan. Pada masa penjajahan Belanda juga, Orang Jawa didatangkan ke Merauke untuk membuka lahan persawahan.
Tahanan di kamp Tanah Merah, Boven Digoel tahun 1927
Selain sungai Maro, Belanda juga mendengar informasi tentang sungai lain yang lebih besar yang dinamakan Sungai Digul. Belanda kemudian mengirim ekspedisi kesana. Tahun 1920-an, muncul ide untuk memanfaatkan pedalaman Papua sebagai kamp tahanan. Lokasi yang cocok adalah hulu sungai Digul (Boven Digoel) yang kemudian didirikan kamp bernama Tanah Merah. Hutan yang lebat dan sungai Digul yang ganas ditambah wabah malaria menyebabkan tahanan tersiksa namun tak bisa meloloskan diri. Beberapa tokoh yang pernah ditahan disini antara lain Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Selama perjuangan pembebasan Irian Barat, Belanda kembali menggunakan lokasi ini sebagai kamp pengasingan. Mereka kembali membangun penjara dan beberapa rumah dinas polisi. Beberapa tokoh yang pernah dipenjara disini adalah Johanes Abraham Dimara beserta pasukannya, Petrus Korwa, Hanoch Rumbrar, dll. Kamp ini kemudian dipimpin oleh seorang opsir tentara yang ditugaskan sebagai fungeerend controleur (pejabat pengawas). Setelah Belanda pergi tahun 1960-an, Tanah Merah semakin ramai sehingga menjadi distrik dan akhirnya dijadikan ibukota Kabupaten Boven Digoel.
Pasca Integrasi
Tahun 1960-an, seluruh Nugini Belanda berhasil dikuasai Indonesia. Bekas Zuid Nieuw Guinea diubah menjadi Kabupaten Merauke dengan ibukotanya di Distrik Merauke. Pada tahun 2002, Kabupaten Merauke dimekarkan menjadi empat kabupaten seperti sekarang yaitu Merauke, Mappi, Asmat, dan Boven Digoel. Seluruh bekas wilayah Kabupaten Merauke terdahulu yang mencakup empat kabupaten akhirnya kembali disatukan menjadi provinsi Papua Selatan pada tahun 2022. Menurut Ketua Tim Pemekaran Provinsi Papua Selatan, Thomas Eppe Safanpo, nama provinsi ditentukan tidak menggunakan kata Anim Ha, dikarenakan kata tersebut merupakan nama-nama wilayah adat yang direkayasa Belanda dan berasal dari kata Suku Marind untuk memanggil dirinya yang berarti manusia sejati, sedangkan memanggil suku di luar Marind dengan sebutan ikom yang artinya bangsa yang direndahkan. Sehingga penggunaan nama tersebut sama saja dengan mengakui dan mengangkat derajat Suku Marind, tetapi merendahkan derajat suku-suku lainnya.
Tahun 2007, Bupati Merauke John Gebze menggagas Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) yaitu proyek pengembangan pangan dan energi dalam skala besar dan dikelola secara terpadu untuk meningkatkan ketahanan pangan Indonesia, Merauke yang memiliki lahan yang luas dengan geografis dataran rendah dan subur cocok dijadikan lumbung pangan. Awalnya proyek ini bernama Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) yang berfokus pada padi, namun kemudian diperluas sehingga mencakup tanaman lain seperti tebu, jagung, dan kelapa sawit. Proyek ini kemudian diresmikan di tahun 2010 pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan melibatkan banyak investor swasta. Dalam perjalanannya, proyek ini kurang berhasil karena adanya perbedaan pandangan antara pemerintah, investor, dan masyarakat adat Marind sebagai pemilik lahan. Ditambah tekanan dari LSM yang menilai proyek ini terdapat pelanggaran HAM terhadap suku asli dan kerusakan lingkungan membuat perusahaan berhenti membuka lahan baru.[23][24][25] Di masa Presiden Joko Widodo, proyek Food Estate dibangkitkan kembali di berbagai wilayah dengan 200.000 hektar lahan ditetapkan untuk Pulau Papua. Komoditi utamanya yaitu jagung dan padi dan berlokasi antara lain di Mappi, Boven Digoel, dan Merauke.
Perayaan terbentuknya Provinsi Papua Selatan di halaman kantor Bupati Merauke
Setelah undang-undang pembentukan Papua Selatan diresmikan, Kementerian Dalam Negeri mengirim tim Kelompok Kerja (Pokja) I Satgas Pengawalan Daerah Otonomi Baru ke Merauke untuk membantu para bupati menyiapkan segala kebutuhan dari provinsi baru tersebut seperti pegawai, lahan perkantoran, penyerahan aset dan dana hibah, anggaran sementara, serta kantor sementara. Kantor gubernur sementara berada di Gedung Negara Merauke sedangkan kantor Sekretariat Daerah (Sekda) berada di Hotel Asmat yang letaknya di seberang jalan dari Gedung Negara. Perkantoran gubernur beserta dinas provinsi nantinya akan dibangun di titik yang belum ditentukan tetapi sudah ada alternatif yang ditawarkan yaitu Kota Terpadu Mandiri (KTM) Kurik atau kawasan Kebun Coklat Tanah Miring. Kedua daerah tersebut merupakan kawasan transmigrasi. Peresmian Provinsi Papua Selatan dilakukan pada 11 November 2022 bersamaan dengan pelantikan rektor Universitas Cenderawasih Apolo Safanpo sebagai penjabat gubernur Papua Selatan oleh Menteri Dalam Negeri.
Demografi
Agama
Kristen 72,38%
Islam 27,47%
Hindu 0,11%
Buddha 0,04%
Bahasa
Indonesia (resmi), Awyu, Asmat, Citak, Jawa, Kolopom, Korowai, Marind, Morori, Mombum, Muyu, Wambon
Geografi
Peta Provinsi Papua Selatan
Batas wilayah
Utara Provinsi Papua Pegunungan
Timur Provinsi Barat, Papua Nugini
Selatan Laut Arafura
Barat Laut Arafura dan Papua Tengah
Sungai
Papua Selatan memiliki berbagai sungai besar antara lain:
Sungai Bian
Sungai Digul
Sungai Maro
Sungai Mapi
Sungai Wildeman
Sungai juga membentuk batas negara Indonesia dengan Papua Nugini. Perbatasan Indonesia dan Papua Nugini berbentuk garis lurus kecuali sebagian kecil Sungai Fly di Papua Nugini yang menjorok ke arah Indonesia. Sungai Bensbach juga mengalir di Papua Nugini namun wilayah muaranya atau disebut Muara Torasi di Kampung Kondo dikenal sebagai titik ujung timur Indonesia.
Pulau
Pulau Kolepom (juga disebut Pulau Kimaam, Dolok, atau Yos Sudarso)
Pulau Komolom
Pulau Habe
Suku bangsa
Sekelompok pria orang Asmat, sedang memahat sebuah ukiran dari pohon
Provinsi Papua Selatan dihuni oleh beragam suku bangsa. Data dari Badan Pusat Statistik melalui Sensus Penduduk Indonesia 2010, kelompok suku bangsa di Papua dikategorikan sebagai orang Papua dan Non Papua atau bukan penduduk asli Papua. Berdasarkan data sensus tersebut, untuk wilayah Papua Selatan, jumlah penduduk berdasarkan suku bangsa berdasarkan jenis kelamin laki-laki, bahwa sebanyak 130.050 jiwa atau 60,08% adalah orang Papua dan sebanyak 86.421 jiwa atau 39,92% adalah Non Papua. Sementara Kabupaten Merauke menjadi kabupaten di Papua Selatan yang didominasi oleh suku pendatang atau bukan asli Papua.
Perekonomian
Pertanian
Panen perdana hasil cetak sawah tahun 2012 di Merauke
Papua Selatan memiliki potensi pertanian yang melimpah karena geografinya berupa dataran rendah yang sangat luas dan subur. Sejak zaman Belanda, orang Jawa didatangkan untuk mencetak sawah padi di Merauke yang kemudian dilanjutkan oleh program transmigrasi setelah kemerdekaan. Pangan lokal seperti sagu dan umbi-umbian mulai berganti dengan beras dan makanan instan. Tahun 2010, pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) untuk menjadikan Kabupaten Merauke sebagai salah satu lumbung pangan Indonesia. Tanaman dalam program ini antara lain padi, jagung, dan kelapa sawit. Proyek ini mengalami kegagalan karena konflik antara pemerintah dan perusahaan dengan masyarakat adat dan LSM mengenai adanya kerusakan lingkungan dan pelanggaran HAM terhadap suku asli sehingga tidak ada lahan baru yang dibuka. Program cetak sawah kembali dimulai pada masa kepemimpinan Joko Widodo namun kembali menuai kegagalan karena berbagai faktor seperti kondisi tanah berupa rawa yang asam dan sering banjir, kurangnya tenaga kerja, dan minimnya infrastruktur pendukung. Sekarang pemerintah Merauke lebih fokus untuk memaksimalkan produksi sawah yang sudah ada.
Perkebunan dan Kehutanan
Papua Selatan memiliki perkebunan kelapa sawit di Merauke dan Boven Digoel yang dikelola perusahaan besar. Salah satunya adalah PT Tunas Sawa Erma (TSE) yang merupakan anak perusahan Korindo asal Korea Selatan. Selain kelapa sawit, Korindo juga bergerak di industri kayu. TSE Group beroperasi di Merauke dan Boven Digoel dan terdiri dari beberapa anak perusahaan seperti PT Tunas Sawa Erma (TSE), PT Dongin Prabawa (DP), PT Berkat Cipta Abadi (BCA) dan PT Papua Agro Lestari (PAL).[37][38] Persebaran kebun kelapa sawit Papua Selatan antara lain di distrik Ngguti, Ulilin, dan Muting di Kabupaten Merauke serta distrik Jair di Kabupaten Boven Digoel.
Salah satu produk kehutanan Papua Selatan adalah kayu gaharu (Aquilaria dan Gyrinops) yang digunakan untuk wangi-wangian. Pohon ini dapat ditemukan di Mappi dan Asmat. Tanaman ini menjadi mata pencaharian masyarakat di pedalaman karena memiliki nilai jual yang tinggi. Beberapa gaharu ada yang diambil dari tegakan pohon namun ada juga yang diambil dari lumpur. Gaharu lumpur merupakan hasil penebangan di masa lalu yang jatuh dan terbenam di lumpur namun masih beraroma wangi. Pada tahun 2020, lebih dari 2 ton gaharu Mappi seharga 790 juta dijual ke Jakarta melalui Bandara Mopah Merauke.
Perikanan
Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Merauke
Laut Arafura di selatan Pulau Papua memiliki potensi perikanan yang tinggi. Menurut Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono, terdapat sekitar 20 ribu kapal dari luar Papua yang menangkap ikan disini sehingga membuat nelayan lokal tersisih serta jumlah ikan menjadi turun. Kementerian KKP berencana menertibkan kapal-kapal tersebut dengan mengutamakan nelayan lokal serta meningkatkan pelabuhan perikanan Merauke. Ikan yang ditangkap harus dibawa ke Merauke dan dikirim ke luar lewat pelabuhan ini agar membawa kontribusi ke daerah setempat. Untuk melestarikan kekayaan sumber daya alam di Laut Arafura, Pemerintah Papua Selatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta UNDP meluncurkan Kawasan Konservasi Perairan atau Marine Protected Area (MPA) pertama di Provinsi Papua Selatan pada Juli 2023 yang terletak di Pulau Kolepom dengan luas 356.337 ha.
Salah satu produk perikanan yang berharga adalah gelembung renang (fish maw) yaitu organ yang mengatur kemampuan mengapung dan berenang ikan. Gelembung ikan yang paling diminati antara lain gelembung ikan kakap dan ikan gulama. Harga gelembung ikan gulama 10 gram per 1 kg adalah sekitar 18 juta rupiah dan diproduksi sekitar 15 ribu ton di tahun 2018 untuk diekspor ke negara lain seperti Malaysia dan Singapura. Kegunaan gelembung ikan antara lain untuk kesehatan, makanan mewah dan benang jahit operasi. Salah satu perusahaan besar di bidang perikanan adalah perusahaan asal Tiongkok PT Dwikarya Reksa Abadi yang beroperasi di Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke. Namun, izin usahanya dicabut di tahun 2015 karena melanggar peraturan termasuk peratuan Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti tentang moratorium kapal asing. Hal ini berdampak pada perkampungan di sekitar perusahaan seperti kampung Bibikem. Masyarakat dulunya memanfaatkan fasilitas perusahaan seperti rumah sakit, genset, dan ruang pendingin ikan.
Pendidikan
Provinsi ini terdapat satu perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Musamus Merauke (UNMUS). Sekolah ini awalnya bernama Sekolah Tinggi Teknologi Merauke (STTM) yang berdiri di tahun 2001 kemudian berubah status menjadi perguruan tinggi negeri di tahun 2010.[48] Merauke juga memiliki kampus D3 Keperawatan dibawah Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jayapura. Selain perguruan tinggi negeri dan kedinasan diatas juga terdapat perguruan tinggi swasta,[49] antara lain:
Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke (STK St. Yakobus)
Sekolah TInggi Ilmu Tarbiyah YAMRA Merauke (STIT YAMRA)
Politeknik Pertanian Yasanto
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YAPIS Merauke (STIE YAPIS)
Pariwisata
Taman Nasional Wasur
Taman Nasional Wasur
Taman Nasional Wasur merupakan bagian dari lahan basah terbesar di Papua dan sedikit terganggu oleh aktivitas manusia. Biodiversitasnya membuat taman ini dijuluki sebagai “Serengeti Papua”. Sekitar 70% dari luas wilayah ini terdiri dari sabana, sementara vegetasi lainnya merupakan hutan rawa-rawa, hutan monsoon, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan sagu. Tanaman yang dominan meliputi spesies mangrove, triwulan, dan melaleuca serta fauna seperti walabi dan cendrawasih.Taman Nasional Wasur ini terletak di Kabupaten Merauke. Daerah ini ditetapkan sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan di tahun 1990 dengan menggabungkan Cagar Alam Rawa Biru dan Suaka Margasatwa Wasur yang sudah ditetapkan sejak 1978.
Musamus
Musamus di TN Wasur
Musamus adalah salah satu keanekaragaman hayati di Merauke, Papua Selatan. Musamus adalah bangunan yang menjulang tinggi hingga 5 meter yang dibangun oleh rayap dari golongan Macrotermes. Musamus terbuat dari tanah dengan perekat dari rumput dan air liur serta di dalamnya terdapat lorong-lorong sebagai tempat tinggal koloni rayap. Musamus juga dilengkapi rongga ventilasi untuk mengatur suhu dan kelembapan di dalam struktur ini. Musamus umumnya ditemukan di padang sabana Taman Nasional Wasur, namun juga terdapat kumpulan musamus yang ditemukan di kampung Salor Indah. Warga Salor Indah yang mayoritas berprofesi sebagai petani mengubah area tempat musamus tersebut berada sebagai tempat wisata dengan nama Taman 1000 Musamus
Kebudayaan
Ukiran Asmat
Ukiran Tiang Bisj Asmat di Museum Seni Metropolitan, New York
Suku Asmat terkenal dengan seni ukirnya yang sudah mendunia. Ukiran Asmat memiliki berbagai motif seperti alam, makhluk hidup, dan kehidupan sehari-hari. Orang Asmat menganggap bahwa ukiran tidak hanya merupakan karya seni tetapi bagian dari ritual religius mereka sebagai penghubung dengan leluhur. Ukiran Asmat terbuat dari bahan lokal seperti kayu besi dan kayu pala hutan. Salah satu ukiran Asmat yang terkenal adalah Tiang Bisj atau Bis yang berukuran lebih dari 3 meter. Tiang ini terdiri dari figur-figur yang disusun bertingkat. Figur tersebut melambangkan arwah leluhur yang terbunuh oleh musuh. Bagian paling atas tiang diberi hiasan seperti sayap.
Perahu lesung
Pendayung perahu di Festival Budaya Asmat
Karena geografi Papua Selatan berupa rawa-rawa dan dilewati sungai besar, banyak suku yang menggunakan perahu lesung sebagai alat transportasi sehari-hari. Salah satu suku yang menggunakan perahu lesung adalah Suku Asmat. Perahu lesung dibuat dengan membuat rongga di tengah batang pohon yang utuh dan terkadang dihiasi dengan ukiran. Perahu ini didayung oleh orang banyak dengan posisi berdiri. Pada zaman dahulu, perahu ini juga digunakan Suku Asmat dalam tradisi pengayauan mereka yang membuat suku ini cukup ditakuti. Warga Asmat beramai-ramai menuju kampung yang jauh menggunakan perahu kemudian membantai penghuninya. Sekarang perahu motor lebih banyak digunakan sebagai alat transportasi. Perahu lesung diangkat dalam berbagai acara budaya untuk melestarikan tradisi ini misalnya Festival Budaya Asmat dan lomba mendayung antar kampung.
Rumah adat
Rumah tinggi Suku Korowai
Kelompok suku di Papua Selatan memiliki rumah adat masing-masing, misalnya rumah Jew Suku Asmat dan rumah tinggi Suku Korowai. Rumah adat Suku Korowai memiliki keunikan karena dibangun di atas pohon sekitar 4,5 meter dari tanah. Budaya ini adalah respon Suku Korowai untuk menghadapi geografi wilayah mereka yang diapit sungai besar sehingga sering mengalami banjir. Struktur utama dari bangunan ini adalah pohon dengan batang dan akar yang kuat kemudian di bagian pinggir diberi tiang penyangga tambahan. Rotan digunakan sebagai tali sambungan antar kayu. Atap bangunan terbuat dari rangka kayu yang ditutupi daun sagu sedangkan lantainya terbuat dari rangka kayu yang ditutupi kulit kayu atau nibung.
Senjata tradisional
Pisuwe khas Papua Selatan
Salah satu senjata tradisional di Papua Selatan adalah pisau belati bernama pisuwe. Senjata ini diambil dari tulang paha manusia atau tulang burung kasuari, dan bulunya menghiasi hulu belati tersebut. senjata utama penduduk asli Papua lainnya adalah busur dan panah. Busur tersebut dari bambu atau kayu, sedangkan tali Busur terbuat dari rotan. Anak panahnya terbuat dari bambu, kayu atau tulang kanguru. Busur dan panah umumnya dipakai untuk berburu atau berperang.

