Papua Tengah

Kumpulan Propinsi

Di Indonesia.

Banyak keragaman budaya yg terkandung pada setiap propinsi.

Nama Resmi : Propinsi Papua Tengah
Ibukota : Nabire
Tanggal berdiri :25 Juli 2022
Gubernur : Meki Fritz Nawipa, SH
Wakil Gubernur : Deinas Geley, S.Sos,M.Si
Jumlah Penduduk:  1.348.463 jiwa
Luas Wilayah: 60,491,24 km2
Alamat : Karang Mulia, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua
Tlp : 0967 537523
Website : www.papuatengahprov.go.i

Wilayah Administrasi:
Kabupaten : 8
Kodya/Kota :

Sejarah
Masa Kesultanan Tidore
Daerah barat Mimika sejak abad-18 menjadi jangkauan terjauh pengaruh “Uli Siwa” Kesultanan Tidore di pesisir barat selatan Pulau Papua. Wilayah ini dipengaruhi oleh tiga kelompok besar, Suku Koiwai, Suku Kamoro, dan Suku Asmat. Hubungan perdagangan akan budak, peralatan besi, kain, dan ornamen tubuh yang terbentuk menanamkan banyak pengaruh terhadap penduduk lokal dengan ditandainya penggunaan gelar asal Maluku (raja, mayor, kapitan, dan orang tua) dan juga kebudayaan Islamis masyarakat seperti penggunaan topi berbentuk turban dan kebiasaan tidak makan babi hingga pada tahun 1950-an.

Pusat perdagangan di wilayah ini berpusat di Kipia yang dipimpin oleh seorang yang mendapat gelar raja dari Kerajaan Namatota (Koiwai) bernama Naowa. Kipia memimpin konfederasi kampung Kamoro bernama Tarya We, bersama Poraoka, Maparpe, Wumuka, Umar dan Aindua. Mereka bekerja sama karena wilayahnya yang kurang akan Sagu dan mengintimidasi wilayah yang lebih subur disebelah timur dengan kano dan minaki (senjata api) yang diterima dari perdagangan. Sedangkan di timur terjadi perang besar bernama Perang Tipuka dimana kampung Tipuka dihancurkan oleh Koperapoka dibantu koalisi Mware, Pigapu, Hiripau dan Miyoko yang diperkirakan atas balas dendam karena Tipuka menculik warga untuk didagangkan.Hubungan perdagangan dan pengaruh dari Maluku ini lambat laun hilang dengan semakin kuatnya kolonialisme Belanda, dan masuknya misionaris Katolik serta pedagang asal Tiongkok

Pemekaran tahun 1999 dan 2003
Peta provinsi Papua Tengah berdasarkan usulan pada tahun 1999 dan 2003. Terlihat dalam peta tersebut Kepulauan Biak dan Yapen-Waropen diusulkan masuk provinsi ini

Setelah tertunda selama beberapa tahun, Presiden B.J. Habibie menyetujui pemekaran Provinsi Irian Jaya. Provinsi Irian Jaya dimekarkan menjadi Provinsi Irian Jaya, Irian Jaya Barat, dan Irian Jaya Tengah melalui Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 yang ditetapkan pada tanggal 4 Oktober 1999. Mantan Pembantu Gubernur Wilayah II Herman Monim kemudian dilantik sebagai Gubernur Irian Jaya Tengah pertama pada tanggal 12 Oktober 1999.[27] Kendati demikian, pemekaran Provinsi Irian Jaya ditentang oleh DPRD Irian Jaya dan DPRD Irian Jaya mengeluarkan keputusan yang membatalkan pemekaran tersebut secara sepihak empat hari kemudian. Pemerintah pusat mengakui keabsahan keputusan yang dikeluarkan oleh DPRD Irian Jaya dan undang-undang tersebut ditarik kembali.

Setelah Irian Jaya mengalami perubahan nama menjadi Papua pada tahun 2000, tuntutan tentang pemekaran provinsi Papua kembali mengemuka. Pada tanggal 23 Agustus 2003, Andreas Anggaibak (Ketua DPRD Mimika), Jacobus Muyapa (Ketua DPRD Paniai), dan Philip Wona (Bupati Yapen Waropen) mendeklarasikan pembentukan provinsi Papua Tengah. Akibat dari deklarasi tersebut, masyarakat di wilayah Papua Tengah terpolarisasi menjadi dua, yakni massa yang mendukung dan yang menolak pemekaran provinsi Papua Tengah. Kedua kelompok tersebut bertikai dan saling menyandera satu sama lain selama kurang lebih seminggu hingga akhirnya pemerintah pusat mengeluarkan keputusan untuk menunda pemekaran provinsi pada tanggal 28 Agustus. Kedua pihak akhirnya memutuskan untuk berdamai sehari setelah keputusan tersebut dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Pertikaian tersebut mengakibatkan lima orang tewas dan puluhan orang lainnya terluka.

Pemekaran kabupaten
Setelah merdeka, wilayah Papua Tengah yang resmi sekarang masih terpencar di antara tiga kabupaten yaitu Paniai, Jayawijaya, dan Fakfak. Tahun 1966, ibukota Paniai dipindahkan dari Enarotali di wilayah pedalaman ke Nabire di wilayah pesisir karena mudah diakses dengan transportasi laut sehingga sangat strategis sebagai gerbang masuk ke daerah pedalaman lainnya. Kemudian menurut PP Nomor 52 tahun 1996, diadakan pemekaran wilayah di kawasan Papua Tengah. Kabupaten Puncak Jaya yang beribukota di Mulia dipisahkan dari Kabupaten Jayawijaya sedangkan Kabupaten Paniai dipecah menjadi dua. Kabupaten Paniai yang beribukota di Nabire berubah nama menjadi Kabupaten Nabire dan nama Paniai dipakai kembali untuk kabupaten baru yang beribukota di Enarotali. Selanjutnya, pemekaran diatas lebih lanjut diundangkan dalam UU Nomor 45 tahun 1999. Dalam Undang-Undang tersebut juga dilakukan pemekaran Kabupaten Mimika beribukota di Timika dari Kabupaten Fakfak.

Pasca disahkannya UU mengenai otonomi daerah, mulai bermunculan proposal-proposal pembentukan daerah baru sehingga jumlah kabupaten dan kota bertambah secara pesat. Pada tahun 2008, Wilayah Papua Tengah sendiri berkembang dari sebelumnya 4 kabupaten menjadi 8. Kabupaten Paniai bagian timur dimekarkan menjadi Kabupaten Intan Jaya, wilayah Paniai di sekitar Danau Tigi dimekarkan menjadi Kabupaten Deiyai, sisi selatan Kabupaten Nabire dipisahkan menjadi kabupaten bernama Dogiyai, dan terakhir bagian barat Puncak Jaya dimekarkan menjadi Kabupaten Puncak.

Demografi
Agama
Protestan 68,58%
Katolik 19,24%
Islam 12,07%
Hindu 0,07%
Buddha 0,03%
Lainnya 0,01%

Bahasa
Indonesia (resmi)
Auye,
Damal,
Mee,
Iau,
Kamoro,
Keuw,
Melayu Papua,
Moni,
Sempan,
Wano,
Wolani,
Yaur,
Yeresiam

Masuknya PT Freeport Indonesia
Anton Colijn, Frits Wissel dan Jean Jacques Dozy di salju saat pendakian ekspedisi Cartensz

Tahun 1936, Anton Colijn dari Belanda memimpin Ekspedisi Cartensz untuk menaklukan Puncak Jaya, gunung tertinggi di Papua. Salah satu anggota tim tersebut adalah ahli geologi bernama Jean Jacques Dozy yang menemukan banyaknya kandungan tembaga di salah satu tempat yang mereka lewati. Tempat ini kemudian dinamakan Gunung Bijih atau Ertsberg dan dipublikasikan. Laporan mengenai tempat ini akhirnya dilupakan begitu saja karena adanya Perang Dunia II. Perusahaan Amerika bernama Freeport Sulphur Company menemukan laporan berharga tersebut dan mengirim ekspedisi di tahun 1963 untuk mengonfirmasi keberadaan kekayaan alam ini. Ekspedisi ini beranggotakan ahli geologi Delos Flint dan dipimpin oleh Forbes Wilson yang nantinya akan menjadi Presiden Freeport Indonesia. Ekspedisi ini berhasil menemukan potensi yang sangat besar di wilayah tersebut sehingga di tahun 1967 ditandatanganilah Kontrak Karya pertama dengan Pemerintah Indonesia dibawah Presiden Soeharto yang baru saja mengesahkan UU No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Tahun 1970, tambang mulai dibuka dan masyarakat Suku Amungme direlokasi ke tempat lain. Selain membuka tambang, Freeport juga membangun infrastruktur pendukung seperti Pelabuhan Amamapare di wilayah Suku Kamoro dan pemukiman bernama Kuala Kencana di tahun 1995. Perusahaan ini kemudian membuka tambang baru yaitu Tambang Grasberg di Tembagapura yang mengandung emas dan menandatangani Kontrak Karya ke-II di tahun 1991.

Usulan
Upaya untuk memekarkan Provinsi Papua (dahulu dikenal dengan nama Provinsi Irian Jaya) dilakukan sejak masa pemerintahan Gubernur Busiri Suryowinoto. Pada masa itu, Presiden Soeharto mendorong pemekaran Provinsi Irian Jaya untuk menambah perwakilan Irian Jaya pada lembaga legislatif tingkat pusat dan melancarkan pembangunan di wilayah tersebut. Gagasan pemekaran ini juga dikemukakan dalam seminar “Pembangunan Pemerintah Daerah” pada tahun 1982.

Sebelum wafat pada awal Agustus 1982, Busiri mengemukakan tiga usulan berbeda untuk pemekaran provinsi tersebut, yang dinilai oleh wartawan Kompas Korano Nicolash LMS sebagai konsep pertama yang “memuat secara komprehensif dan rinci pemekaran Irja menjadi tiga propinsi”. Salah satu usulan Busiri tersebut adalah membagi Irian Jaya menjadi tiga provinsi, yakni Irian Jaya Timur, Irian Jaya Tengah, dan Irian Jaya Barat. Provinsi Irian Jaya Tengah terdiri dari kabupaten Mapurajaya (Mapurajaya), Nabire (Nabire), Enarotali (Enarotali), Mulia (Mulia), Yapen-Waropen (Serui), dan Teluk Cenderawasih (Biak). Meski usulan pemekaran ini tidak pernah diwujudkan, Presiden Soeharto menyetujui pemecahan wilayah Irian Jaya menjadi tiga wilayah pembantu gubernur pada tahun 1984

Perekonomian
Pertambangan
Presiden Indonesia Joko Widodo mengunjungi tambang Grasberg

Wilayah Papua Tengah seperti Ertsberg, Grasberg dan Blok Wabu memiliki bahan tambang yang melimpah. Grasberg adalah salah satu tambang emas terbesar di dunia yang terletak di kawasan pegunungan Kabupaten Mimika. Tambang ini dikelola oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) yang merupakan anak perusahaan Freeport-McMoRan dari Amerika Serikat. Tidak hanya emas, Grasberg juga menghasilkan tembaga dan perak.Untuk mendukung penambangan tersebut, PTFI juga membangun pemukiman Kuala Kencana, Tembagapura, dan pelabuhan Amamapare. Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2021 ekspor terbesar Pulau Papua berada di pelabuhan ini.Blok Wabu adalah kawasan di Kabupaten Intan Jaya yang juga memiliki kandungan emas yang banyak. Wilayah ini dilepas oleh Freeport kepada negara dan sekarang banyak perusahaan yang berencana melakukan eksplorasi di sana.

Masyarakat menambang limbah sisa PT. Freeport di suatu sungai di Mimika dengan alat sederhana

Melimpahnya kekayaan alam di wilayah ini juga menarik perhatian warga untuk mengais rezeki dengan melakukan penambangan secara ilegal. Salah satu lokasinya adalah Sungai Otomona dan Ajkwa di Mimika yang merupakan tempat pembuangan limbah tailing atau lumpur sisa penambangan PT Freeport Indonesia. Pendulang emas memakai alat sederhana seperti wajan dan ayakan. Saat terjadi hujan deras di wilayah tambang, ribuan pendulang berdatangan untuk mendulang emas walaupun resikonya tinggi karena banjir. Penambangan emas juga terjadi di wilayah lain seperti Topo, Kabupaten Nabire dan Baya Biru, Kabupaten Paniai. Penambang mendirikan perkampungan sederhana untuk tinggal sementara dan mendulang emas di sungai. Transportasi dan distribusi kebutuhan ke Baya Biru cukup mahal menggunakan helikopter atau pesawat kecil. Penambangan disini juga penuh resiko karena aktivitas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Perkebunan dan Perikanan
Terdapat areal perkebunan kelapa sawit yang luas di Kabupaten Nabire dan Mimika. PT Nabire Baru dan PT Sariwana Adi Perkasa (SAP) mengelola lahan perkebunan sawit di wilayah adat Suku Yeresiam Gua Kampung Sima, Distrik Yaur, Nabire. Mimika juga terdapat lahan perkebunan sawit yang awalnya dikelola oleh PT Pusaka Agro Lestari (PAL) yang dinyatakan bangkrut. Lahan PT PAL kemudian dilelang oleh pemerintah Mimika dan dimenangkan oleh PT. Karya Bella Vita di tahun 2022.

Kabupaten Mimika memiliki potensi perikanan yang besar sehingga pemerintah pusat membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di tahun 2017 untuk memajukan ekonomi masyarakat lokal. SKPT Mimika cukup sukses memproduksi puluhan ribu ton ikan setiap tahunnya seperti ikan layang kembung, lemuru, cucut, manyung, gulama, bawal hitam dan sembilang. Ikan beku banyak dikirim ke kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Jayapura, Merauke, dan bahkan diekspor ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Lengkapnya fasilitas di SKPT Mimika seperti gudang beku dan pabrik es menarik banyak kapal penangkap ikan untuk berlabuh. SKPT memang dibangun di kawasan terluar supaya daerah tersebut dapat mengembangkan ekonominya.

Pendidikan
Terdapat beberapa perguruan tinggi di Papua Tengah, antara lain:

Swasta
Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire
Universitas Timika (UTI)
Politeknik Amamapare Timika (POLTEKAM)
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jambatan Bulan Timika (STIE JB)
Negeri dan Kedinasan
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jayapura
Kampus Nabire – menyelenggarakan program D3 Keperawatan dan Kebidanan
Kampus Mimika – menyelenggarakan program D3 Keperawatan, Kebidanan, dan Sanitasi
Unit Pelaksana Program (UPP) PGSD Universitas Cenderawasih di Nabire

Pariwisata
Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Hiu paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Taman Nasional Teluk Cenderawasih adalah Taman Nasional bahari yang berada di perbatasan Papua Barat dengan Papua Tengah tepatnya di Nabire. Merupakan tempat wisata dengan kekayaan alam yang tinggi dan masih asri, berupa lautan biru dengan pulau-pulau kecil berpasir putih dan terumbu karang dengan keanekaragaman biota laut. Selain itu pengunjung juga dapat menyelam bersama Hiu paus (Rhincodon typus) yang dapat dijumpai di Kwatisore.

Pegunungan Jayawijaya
Jajaran Pegunungan Jayawijaya yang terlihat dari tambang Grasberg

Pegunungan Jayawijaya adalah jajaran pegunungan tinggi di Papua yang gunung tertingginya merupakan puncak tertinggi di Indonesia dan Oseania. Gunung tertinggi ini disebut dengan Puncak Jaya, Cartensz Pyramid, atau Nemangkawi dan memiliki ketinggian 4.884 m. Sebagai gunung tertinggi di Oseania, Puncak Jaya termasuk dalam Tujuh Puncak atau Seven Summits yaitu gunung tertinggi dari tujuh benua yang dicatat oleh pendaki legendaris Reinhold Messner. Menaiki ketujuh puncak tersebut menjadi impian pendaki gunung di seluruh dunia. Puncak Jaya diselimuti oleh salju abadi yang terancam mencair akibat perubahan iklim.
Taman Nasional Lorentz
Pemandangan TN Lorentz

Taman Nasional Lorentz adalah taman nasional yang terletak di antara tiga provinsi yaitu Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Taman nasional ini memiliki luas 2,5 juta hektar sehingga menjadi taman nasional terbesar di Asia Tenggara dan merupakan situs warisan dunia UNESCO. Taman nasional ini terkenal karena mencakup berbagai ekosistem dari pegunungan bersalju, hutan hujan tropis hingga wilayah rawa yang luas dan memiliki banyak satwa endemik. Taman nasional ini diresmikan di tahun 1997 dan sekarang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Beberapa suku yang menghuni taman nasional ini antara lain Suku Amungme di dataran tinggi dan Suku Kamoro di dataran rendah.
Kebudayaan
Koteka

Dua orang memakai koteka
Koteka adalah penutup kelamin tradisional pria yang dipakai oleh beberapa suku pedalaman di pegunungan Papua Tengah, seperti suku Amungme, suku Damal, suku Mee, suku Moni, suku Wano, dll. Koteka terbuat dari buah labu panjang (Lagenaria siceraria) yang isinya dibuang dan dibakar, di mana setiap suku dan mungkin kampung memiliki perbedaan bentuk koteka. Pemerintah pada masa Orde Baru meluncurkan Operasi Koteka untuk menghapuskan penggunaan koteka dan diganti dengan pakaian modern, salah satunya dengan menjatuhkan puluhan ton pakaian ke pedalaman menggunakan pesawat terbang. Berangsur-angsur penggunaan koteka di kehidupan sehari-hari semakin menurun, namun koteka tetap dipakai untuk kepentingan perayaan atau pariwisata. Koteka tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Ukiran Kamoro
Beberapa ukiran Suku Kamoro yang dipamerkan di Kamoro Exhibition Art and Sale yang diadakan PT. Freeport dan Kedutaan Besar AS

Seni ukir kayu banyak dipraktekkan oleh suku-suku pesisir selatan Papua seperti Suku Asmat di Papua Selatan dan Suku Kamoro yang menghuni Mimika di pesisir selatan Papua Tengah. Seni ukir Kamoro saat ini belum begitu terkenal seperti ukiran Asmat yang sudah mendunia sehingga sekarang diupayakan untuk melakukan promosi dan membantu pengukir untuk menjual ke pasar yang lebih luas. Seni ukir ini juga disebut maramowe dan terdiri dari berbagai bentuk seperti yamate (perisai), wemawe (patung orang) dan mbitoro atau tiang yang menggambarkan leluhur. Mbitoro adalah tiang yang terbuat dari kayu bakau dengan pola ukiran figur-figur manusia, tiang ini memiliki kemiripan dengan tiang Bisj buatan Suku Asmat. Mbitoro banyak dipajang di depan rumah adat karapau.

Noken
Noken terbuat dari anyaman tali.
Noken merupakan tas tradisional khas Papua. Noken berbentuk jaring-jaring yang terbuat dari akar kayu pohon atau daun yang dikeringkan berupa tali-tali yang kuat dan dirajut menjadi tas jaring. Keberadaan Noken Papua telah diakui Dunia dengan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda atau warisan dunia oleh Lembaga Kebudayaan Dunia di Markas UNESCO Paris, Prancis pada 4 Desember 2012.